Manual Penerjemah

Judul Manual : Guideline penterjemah (bhs Indonesia)

Guideline penterjemah v2.1

Penterjemah dapat dibagi ke dalam jenis-jenis berikut:

  1. Penterjemah biasa. Misalnya, menterjemahkan pembicaraan.
  2. Penterjemah pidato. Jenis penterjemah ini perlu untuk mengetahui istilah-istilah khusus.
  3. Penterjemah drama. Jenis ini juga perlu untuk mengetahui latar belakang budaya.
  4. Penterjemah khotbah. Jenis ini perlu untuk mengetahui cara menterjemah bukan hanya dari segi teknikal saja, tetapi juga secara rohani.

              Kita adalah penterjemah jenis keempat, yaitu penterjemah khotbah. Karena itu kita perlu untuk selalu mengingat hal-hal penting di bawah ini:

1. Khotbah adalah menyampaikan Firman Allah.

Alkitab walaupun ditulis oleh berbagai penulis, tetapi isinya ditulis dengan inspirasi dari Allah.

II Tim 3:16, Ibr 4:12

Karena itu Alkitab adalah kitab spesial, berbeda dengan buku atau novel. Alkitab adalah Firman dari Tuhan sendiri. Karena itu, kita perlu untuk mengerti isinya dengan benar.

2. Pentingnya penterjemahan khotbah.

Apakah kata-kata yang diucapkan dapat membuat pendengar merasakan adanya dosa dan membimbing kepada pertobatan, serta mampu membuat pendengar mampu merasakan kasih Allah, adalah hal yang sangat penting. Karena itu, pemilihan kata-kata yang digunakan haruslah diperhatikan dengan seksama.

Pada penterjemahan khotbah, kondisi rohani penterjemah sangat berpengaruh.

Karena itu, sebelum menterjemahkan, penterjemah perlu berdoa dengan baik, membaca bagian Firman Tuhan, dan mempersiapkan hatinya dengan baik agar menjadi sehati secara rohani dengan hamba Tuhan. Perlu ada tingkat kerohanian tertentu agar penterjemah mampu mengerti isi dan arti dari khotbah itu sendiri.

Juga, setiap hamba Tuhan juga memiliki gaya tersendiri dalam menyampaikan khotbah mereka.

Contoh: Ada yang menyampaikan kesimpulan terlebih dahulu, ada yang memberikan banyak contoh dan ilustrasi, ada yang menegaskan bagian klimaks dari khotbah, ada yang membagi-bagi ke dalam point dari point 1 sampai3 atau bahkan 5.

Karena itu, seorang penterjemah perlu untuk mempersiapkan dirinya dan mengetahui kebiasaan hamba Tuhan.

3. Penterjemah perlu untuk sebisa mungkin menyesuaikan suaranya dengan suara hamba Tuhan.

Baik keras lembutnya, suasana maupun penekanannya, tempo bicara, intonasi dan sebagainya perlu untuk disesuaikan.

Jika pendengar merasa aneh dengan penterjemahan maka terjemahan itu akan sangat sulit untuk didengarkan. Penterjemah perlu untuk selalu berusaha menjadikan dirinya satu dengan hamba Tuhan yang berkhotbah.

4. Pahami perasaan pendengar.

Pendengar memiliki perbedaan baik dari segi usia, tingkat pengetahuan baik pendidikan maupun agama, karena itu sangat penting untuk memperhatikan pemilihan kata-kata. (Jika ada orang baru yang datang, jangan gunakan kata-kata khusus Alkitab, dsb)

Hati-hati jika ada perbedaan nuansa antara bahasa Jepang dengan bahasa Indonesia. (Misalkan dalam pengakuan dosa, di gereja jepang sangat jarang dilakukan)

Juga, pada saat menterjemahkan peribahasa yang digunakan di dalam khotbah, harus diterjemahkan dengan memperhatikan hubungan antara peribahasa Jepang dan Indonesia. Karena itu, perlu untuk belajar dengan baik. (Misalnya membeli kotowaza jiten yang dijual di hyakuen shop dan mempelajarinya.)

5. Penterjemah jangan malu apabila diperbaiki oleh penterjemah lainnya.

Semua feedback yang masuk akan menghasilkan pertumbuhan diri sendiri, sehingga penterjemah akan mampu untuk menterjemahkan khotbah dengan lebih tepat dan mulus. Karena itu, saat giliran menterjemah, sebaiknya mencari seorang penterjemah lain untuk mengevaluasi diri. Juga, penterjemah lain yang tidak sedang menterjemahkan pun, jangan ragu untuk memberikan perbaikan bagi penterjemah yang bertugas, agar pelayanan penterjemah dapat lebih meningkat.

Juga, pada saat tidak bertugas, berusahalah sebisa mungkin untuk selalu belajar dan mendengarkan terjemahan penterjemah lain.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan pada saat menterjemahkan:

- Pelafalan. Misalnya pelafalan “tsu” atau “dzu” sulit untuk dilafalkan oleh orang Indonesia. Agar dapat melafalkan dengan baik, perlu untuk berlatih.

Pada saat membaca alkitab, bacalah dengan cepat dan tepat, tanpa melupakan tanda-tanda baca. Agar dapat membaca dengan baik perlu untuk berlatih terus dalam kehidupan sehari-hari.

- Saat hamba Tuhan berkata “saya”, penterjemah pun harus berkata “saya”. Jangan lupa untuk menjadikan diri satu dengan hamba Tuhan. Tidak boleh menterjemahkan sebagai orang ketiga.

- Jangan diperbaiki berulang-ulang. Walaupun salah, sebisa mungkin perbaiki maksimal sekali saja.

- Pada saat menterjemahkan khotbah, perlu bantuan dari penterjemah lain yang bertugas bersama. Karena itu, pada saat menterjemahkan, penterjemah kedua perlu untuk fokus pada khotbah dan mendukung penterjemah pertama.

- Penterjemah khotbah perlu untuk belajar kata-kata khusus Alkitab.

- Ketahui kebiasaan diri sendiri. Berusahalah untuk selalu memperbaikinya. (Misalkan sering mengucapkan ano, eto dsb.)

- Usahakan untuk selalu menggunakan kata-kata yang enak didengar, perhatikan kekencangan suara, peletakan sela, penggunaan perasaan, pelafalan yang jelas dengan membuka mulut dengan lebar, hati-hati dengan suara bersin, batuk, tertawa, suara nyanyian dan sebagainya. (Untuk melatih pelafalan sama tekniknya dengan latihan vokal, gunakan suara perut)